Zat Pengatur Tumbuh
AUXIN
Auxin adalah salah
satu hormon tumbuh yang tidak terlepas dari proses pertumbuhan dan perkembangan
(growth and development) suatu
tanaman. Hasil penemuan Kogl dan Konstermans (1934) dan
Thymann (1935) mengemukakan bahwa Indole Acetic Acid (IAA) adalah suatu auxin.
1. Kejadian di dalam
alam
Di
dalam alam, stimulasi auxin pada
pertumbuhan celeoptile ataupun pucuk
suatu tanaman, merupakan suatu hal yang dapat dibuktikan. Praktek yang mudah dalam pembuktian kebenaran diatas dapat dilakukan
dengan Bioassay method yaitu dengan the straight growth tets dan curvature test.
Menurut Larsen
(1944), Indoleacetaldehyde
diidentifikasikan sebagai bahan auxin yang
aktif dalam tanaman, selanjutnya ia mengemukakan bahwa
zat kimia tersebut aktif dalam menstimulasi pertumbuhan kemudian berubah
menjadi IAA. Perubahan tersebut menurut Gordon (1956) adalah perubahan dari Trypthopan menjadi IAA
Tryptamine sebagai salah
satu zat organik, merupakan salah satu zat yang terbentuk dalam biosintesis
IAA. Dalam hal ini perlu dikemukakan dalam tanaman
fanili Cruciferae dan merupakan zat
yang dapat dikelompokan ke dalam auxin (Jones et al, 1952). Menurut Thimann dan Mahadevan (1958), zat tersebut atas bantuan
enzym nitrilase dapat membentuk auxin.
Ahli lainnya (Cmelin dan Virtanen, 1961) menerangkan bahwa Indoleacetonitrile yang terdapat pada
tanaman, terbentuk dari Glucobrassicin
atas aktivitas enzym Myrosinase.
Dan zat organik lain (Indoleethanol) yang terbentuk dari Trypthopan dalam biosin. Thesis IAA adalah atas bantuan
bakteri (Rayle dan Purves, 1976).
2. Metabolisme Auxin
Hasil
penelitian terhadap metabolisme auxin
menunjukan bahwa konsentrasi auxin di
dalam tanaman mempengaruhi pertumbuhan tanaman. Adapun
faktor-faktor yang mempengaruhi konsentrasi IAA ini adalah :
a. Sintesis Auxin
b. Pemecahan Auxin
c. In-aktifnya IAA
sebagai akibat proses pemecahan molekul.
Sebagaimana
diketahui, IAA adalah endogeneous
auxin yang terbentuk dari Trypthopan
yang merupakan suatu senyawa dengan inti Indole
dan selalu terdapat dalam jaringan tanaman di dalam proses biosintesis. Trypthopan berubah
menjadi IAA dengan membentuk Indole
pyruvic acid dan Indole-3-acetaldehyde.
Tetapi IAA ini dapat pula terbentuk dari Tryptamine yang selanjutnya menjadi Indole-3-acetaldehyde, selanjutnya menjadi Indole-3-acetid acid (IAA). Sedangkan
mengenai perubahan Indole-3-acetonitrile
menjadi IAA dengan bantuan enzym nitrilase prosesnya masih belum diketahui.
Pemecahan IAA dapat pula terjadi di dalam alam. Hal ini sebagai akibat adanya photo oksidasi dan enzyme.
Dalam peristiwa photo oksidasi ini, pigmen pada tanaman akan
menyerap cahaya kemudian energi ini dapat mengoksidasi IAA. Adapun
pigmen yang berperan dalam photo oksidasi ialah Ribovlavin dan B-Carotene.
Ada hubungan yang berbanding terbalik antara aktivitas oksidasi IAA dengan
kandungan IAA dalam tanaman. Dalam hal ini apabila kandungan IAA tinggi, maka
aktivitas IAA oksidasi menjadi rendah, begitu pula sebaliknya. Di dalam daerah
meristematic yang kadar auxinnya tinggi, ternyata aktivitas IAA oksidasinya
rendah. Sedangkan di daerah perakaran yang kandungan auxinnya rendah, ternyata
aktivitas IAA oksidasinya tinggi.
Proses lain yang
menyebabkan inaktifnya IAA ialah karena adanya degradasi oleh photo oksidasi
atau aktivitas suatu enzym.
3.
Struktur molekul dan aktivitas auxin
Menurut Koeffli, Thimann dan went (1966), aktivitas auxsin ditentukan oleh
:
a.
adanya struktur cincin yang
tidak jenuh,
b.
adanya rantai keasaman (acid chain)
c.
pemisahan karboksil grup (-COOH)
dari struktur cincin.
d.
Adanya pengaturan ruangan antara
struktur cincin dengan rantai keasaman.

Keempat persyaratan diatas merupakan faktor yang menentukan terhadap
aktivitas auxin.
Tentang sifat dari rantai keasaman, Koeffli (1966) menerangkan bahwa posisi
dan panjang rantai keasaman, berpengaruh terhadap aktivitas auxin. Rantai yang
mempunyai karboksil grup dipisahkan oleh karbon atau karbon dan oksigen akan
memberikan aktivitas yang normal.
4.
Arti auxin bagi fisiologi
tanaman.
Auxin sebagai salah satu hormon tumbuh bagi tanaman mempunyai peranan
terhadap pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Dilihat dari segi fisiologi, hormon
tumbuh ini berpengaruh terhadap :
a. Pengembangan sel
b. Phototropisme
c. Geotropisme
d. Apical dominasi
e.
Pertumbuhan akar (root
initiation)
f.
Parthenocarpy
g. Abisission
h. Pembentukan callus
(callus formation) dan
i.
Respirasi
a.
Pengembangan sel
Dari hasil studi
tentang pengaruh auxin terhadap perkembangan sel, menunjukan bahwa terdapat
indikasi yaitu auxin dapat menaikan tekanan osmotik, meningkatkan permeabilitas
sel terhadap air, menyebabkan pengurangan tekanan pada dinding sel,
meningkatkan sintesis protein, meningkatkan plastisitas dan pengembangan
dinding sel.
Dalam
hubungannya dengan permeabilitas sel, kehadiran auxin meningkatkan difusi
masuknya air ke dalam sel. Hal ini ditunjang oleh pendapat Cleland dan Brustrom
(1961) bahwa auxin mendukung peningkatan permeabilitas masuknya air ke dalam
sel.
b.
Phototropisme
Suatu tanaman
apabila disinari suatu cahaya, maka tanaman tersebut akan
membengkok ke arah datangnya sinar. Membengkoknya tanaman
tersebut adalah karena terjadinya pemanjangan sel pada bagian sel yang tidak
tersinari lebih besar dibanding dengan sel yang ada pada bagian tanaman yang
tersinari. Perbedaan rangsangan (respond) tanaman terhadap penyinaran dinamakan phototropisme.
Terjadinya
phototropisme ini disebabkan karena tidak samanya penyebaran auxin di bagian tanaman yang tidak
tersinari dengan bagian tanaman yang tersinari. Pada bagian tanaman yang tidak tersinari konsentrasi auxinnya lebih tinggi
dibanding dengan bagian tanaman yang tersinari.
c.
Geotropisme
Geotropisme
adalah pengaruh gravitasi bumi terhadap pertumbuhan organ tanaman. Bila organ tanaman yang tumbuh berlawanan dengan gravitasi bumi, maka
keadaan tersebut dinamakan geotropisme negatif. Contohnya seperti pertumbuhan
batang sebagai organ tanaman, tumbuhnya kearah atas. Sedangkan geotropisme
positif adalah organ-organ tanaman yang
tumbuh kearah bawah sesuai dengan gravitasi bumi. Contohnya tumbuhnya akar
sebagai organ tanaman ke arah bawah.
Keadaan auxi dalam proses geotropisme ini, apabila suatu tanaman (celeoptile) diletakan secara
horizontal, maka akumulasi auxin akan berada di dagian bawah. Hal ini
menunjukan adanya transportasi auxin ke arah bawah sebagai akibat dari pengaruh
geotropisme. Untuk membuktikan pengaruh geotropisme terhadap akumulasi auxin,
telah dibuktikan oleh Dolk pd tahun 1936 (dalam Wareing dan Phillips 1970).
Dari hasil eksperimennya diperoleh petunjuk bahwa auxin yang terkumpul di
bagian bawah memperlihatkan lebih banyak dibanding dengan bagian atas.
Sel-sel tanaman terdiri dari berbagai komponen bahan cair dan bahan padat.
Dengan adanya gravitasi maka letak bahan yang bersifat cair akan berada di
atas. Sedangkan bahan yang bersifat padat berada di bagian bawah. Bahan-bahan
yang dipengaruhi gravitasi dinamakan statolith (misalnya pati) dan sel yang
terpengaruh oleh gravitasi dinamakan statocyste
(termasuk statolith).
d.
Apical dominance
Di dalam pola
pertumbuhan tanaman, pertumbuhan ujung batang yang dilengkapi dengan daun muda
apabila mengalami hambatan, maka pertumbuhan tunas akan
tumbuh ke arah samping yang dikenal dengan “tunas lateral” misalnya saja
terjadi pemotongan pada ujung batang (pucuk), maka akan tumbuh tunas pada
ketiak daun. Fenomena ini kita namakan “apical
dominance”
Hubungan
antara auxin dengan apical dominance pada suatu tanaman
telah dibuktikan oleh Skoog dan Thimann (1975). Dalam eksperimennya, pucuk tanaman kacang (apical bud) dibuang, sebagai akibat treatment tersebut menyebabkan tumbuhnya tunas di ketiak daun.
Dari ujung tanaman yang terpotong itu diletakan blok
agar yang mengandung auxin. Dari perlakuan tersebut ternyata bahwa tidak
terjadi pertumbuhan tunas pada ketiak daun. Hal ini
membuktikan bahwa auxin yang ada di apical
bud menghambat tumbuhnya tunas lateral.
e.
perpanjangan akar (root initiation)
dalam hubungannya
dengan pertumbuhan akar, Luckwil (1956) telah melakukan suatu eksperimen dengan
menggunakan zat kimia NAA (Naphthalene
acetic acid), IAA (Indole acetid acid)
dan IAN (Indole-3-acetonitrile) yang
ditreatment pada kecambah kacang. Dari hasil eksperimennya
diperoleh petunjuk bahwa ketiga jenis auxin ini mendorong pertumbuhan primordia
akar. Perlu dikemukakan pula di sini, bahwa menurut Delvin (1975),
pemberian konsentrasi IAA yang relatif tinggi pada akar, akan
menyebabkan terhambatnya perpanjangan akar tetapi meningkatkan jumlah akar.
f.
Pertumbuhan batang
(stem growth)
Di dalam alam, hubungan antara auxin dengan pertumbuhan batang nyata erat
sekali. Apabila ujung coleoptile dipotong,
kemungkinan tanaman tersebut akan terhenti pertumbuhannya.
Di dalam tanaman, jaringan-jaringan muda terdapat pada apical meristem. Hubungannya dengan pertumbuhan tanaman peranan
auxin sangat erat sekali. Dalam gambar diatas diperoleh petunjuk bahwa
kandungan auxin yang paling tinggi terdapat pada pucuk yang paling rendah
(basal).
g.
Parthenocarpy
Di dalam alam sering kita menjumpai buah yang tidak berbiji. Seperti ;
Anggur, Strawberry dan tanaman famili
mentimun. Keadaan seperti ini disebabkan tidak dialaminya pembuahan pada
perkembangan buah. Di dalam fisiologi, keadaan seperti ini dinamakan Parthenocarpy.
Di dalam proses Parthenocarpy,
hormon auxin bertalian erat. Seperti dikemukakan massart (1902) hasil
eksperimennya menunjukan bahwa pembengkakan dinding ovary bunga anggrek dapat
distimulasi oleh tepung sari yang telah mati.
Pada tahun 1934 Yasuda berhasil menemukan penyebab Parthenocarpy dengan menggunakan ekstrak tepung sari pada bunga
mentimun. Hasil analisisnya menunjukan bahwa ekstrak tersebut mengandung auxin. Selanjutnya pada tahun1936,
Gustafon telah menemukan terjadinya Parthenocarpy
dengan menggunakan IAA yang dicampur dengan lanolin pada stigma. Hasil
penelitian Muir (1942) menunjukan pula bahwa kandungan auxin pada ovary yang
mengalami pembuahan (pollination)
meningkat bila dibandingkan dengan ovary yang tidak mengalami pembuahan.
h.
Pertumbuhan buah
(fruit growth)
Peningkatan volume buah ada hubungannya dengan pertumbuhan buah. Keadaan
ini akibat hasil pembelahan sel dan/atau pengembangan sel. Menurut Weaver
(1972), fase pembelahan sel biasanya overlap dengan pengembangan sel (cell enlargementh). Keadaan perkembangan
ini selalu diikuti oleh peningkatan ukuran buah.
Mengenai hubungannya dengan auxin,
diterangkan oleh Muller-Thurgau dalam tahun 1898 bahwa endosperma dan embrio di
dalam biji menghasilkan auxin yang
menstimulasi pertumbuhan endosperma. Suatu anggapan mengenai peranan auxin dalam pertumbuhan buah, telah
dibuktikan oleh Crane dalam tahun 1949 dengan menggunakan 2,4, 5-T sebagai exogenous auxin yang diaplikasikan pada
blak berry, anggur, strawberry dan
jeruk. Hasil penelitiannya menunjukan bahwa pertumbuhan buah lebih cepat 60
hari dari fase normal rata-rata 120 hari.
i.
Abscission
Abscission adalah suatu proses secara alami
terjadinya pemisahan bagian/organ tanaman dari tanaman, seperti
; daun, bunga, buah atau batang.
Menurut Addicot (1964) maka dalam proses abscission ini faktor alami seperti ; dingin, panas, kekeringan, akan berpengaruh
terhadap abscission. Dalam hubungannya dengan hormon tumbuh, maka mungkin hormon ini akan
mendukung atau menghambat proses tersebut.
Di dalam proses abscission, akan
terjadi perubahan-perubahan metabolisme dalam dinding sel dan perubahan secara
kimia dari pectin dalam midle lamella.
Pembentukan lapisan abscission (abscission layer), kadang-kadang diikuti
oleh susunan cell division proximal.
Disini sel-sel baru akan berdiferensiasi ke dalam periderm dan membentuk suatu
lapisan pelindung (Weaver, 1972).
Mengenai hubungan antara abscission dengan
zat tumbuh auxin, Addicot et al (1955)
mengemukakan sbb: Abscission akan
terjadi apabila jumlah auxin yang ada
di daerah proksimal (proximal region)
sama atau lebih dari jumlah auxin
yang terdapat di daerah distal (distal
region). Tetapi apabila jumlah auxin yang berada di daerah distal lebih
besar dari daerah proximal, maka
tidak akan terjadi abscission. Dengan
kata lain proses abscission ini akan
terlambat.
Teori lain (Biggs dan Leopold 1957, 1958) menerangkan bahwa pengaruh auxin
terhadap abscission ditentukan oleh
konsentrasi auxin itu sendiri. Konsentrasi auxin yang tinggi akan menghambat
terjadinya abscission, sedangkan
auxin dengan konsentrasi rendah akan mempercepat terjadinya abscission.
Teori terakhir dikemukakan oleh Robinstein dan Leopold (1964) yang menerangkan
bahwa respon abscission pada daun
terhadap auxin dapat dibagi kedalam
dua fase jika perlakuan auxin diberikan setelah daun terlepas. Fase pertama, auxin akan menghambat abscission, dan fase kedua auxin dengan konsentrasi yang sama akan
mendukung terjadinya abscission.
j.
Senescence
Menurut Alex
Comport (1956) dalam Leopold (1961) “senescence”
adalah suatu penurunan kemampuan tumbuh (viability) disertai dengan kenaikan vulnerability suatu organisme. Namun di dalam tanaman, istilah ini diartikan; menurunnya fase
pertumbuhan (growth rate) dan
kemampuan tumbuh (vigor) serta
diikuti dengan kepekaan (susceptibility)
terhadap tantangan lingkungan, penyakit atau perubahan fisik lainnya. Ciri dari fenomena ini selalu diikuti dengan kematian.
Di
dalam alam, senescence terjadi pada
daun, batang dan buah. Menurut Leopold (1961) ada empat bentuk senescence yang terjadi pada tanaman yaitu :
1. Semua organ tumbuh
mengalami senescence (over-all
senescence)
2. Senescence yang terjadi pada bagian atas (top senescence)
3. Senescence yang terjadi seluruh bagian daun dan buah
(decideus senescence)
4. Senescence berkembang dari daun paling bawah menuju
kearah atas (progresive senescence)
Ciri-ciri
terjadinya senescence dapat ditemukan
pada morfologi dan perubahan di dalam organ atau seluruh tubuh tanaman. Keadaan seperti ini diikuti oleh meningkatnya abscission serta daun
dan buah berguguran dari batang pokok. Begitu pula
pertumbuhan dan pigmentasi warna hijau berubah menjadi warna kuning, yang
akhirnya buah dan daun terlepas dari batang pokok.
GIBBERELLIN
Gibberellin adalah jenis hormon tumbuh yang
mula-mula diketemukan di Jepang oleh Kurosawa pada tahun 1926. Penelitian lanjutan dilakukan oleh Yabuta dan Hayashi (1939).
Ia dapat mengisolasi crystalline material yang dapat menstimulasi pertumbuhan pada akar
kecambah. Dalam tahun 1951, Stodola dkk melakukan penelitian
terhadap substansi ini dan menghasilkan “Gibberelline
A” dan “Gibberelline X”. adapun hasil penelitian lanjutannya menghasilkan GA1,
GA2, dan GA3.
Pada saat yang sama dilakukan pula penelitian di Laboratory of the Imperial Chemical Industries di Inggris sehingga
menghasilkan GA3 (Cross, 1954 dalam Weaver 1972). Nama
Gibberellin acid untuk zat tersebut
telah disepakati oleh kelompok peneliti itu sehingga populer sampai sekarang.
1. Kejadian
di dalam alam.
Di
dalam alam telah ditemukan lebih dari sepuluh buah jenis gibberellin. Menurut Mac Millan dan Takashashi (1968), Kang
(1970) dan Weaver (1972), gibberellin
ada yang diketemukan dalam jamur Gibberella
Fujikuroi, ada yang diketemukan pada tanaman tinggi dan ada juga yang
diketemukan pada keduanya.
Jenis gibberellin yang
diketemukan pada jamur yaitu ; GA1, GA2, GA3,
GA4, GA7, GA9, s.d GA16, GA24,
GA25, GA36. Sedangkan jenis gibberellin yang diketemukan pada tanaman derajat tinggi yaitu ; GA1,
s.d GA9, GA13, GA17, s.d GA23, GA26,
s.d GA35. Dan yang terakhir yaitu gibberellin yang diketemukan pada jamur dan tanaman derajat tinggi
yaitu ; GA1, s.d GA4, GA7, GA9, dan
GA13.
Gibberellin ; GA1 s.d GA5, GA7 s.d GA9, GA19,
GA20, GA26, GA27, dan GA29
diketemukan pada Pharbitis nil, GA1,
GA5, GA8, GA9, GA13, diketemukan
pada umbi tulip, kemudian GA3, GA4, GA7,
diketemukan pada anggur, GA18, GA19, GA20,
diketemukan pada pucuk bambu, GA3, GA4, GA7,
dijumpai pada biji apel, selanjutnya GA21, dan GA22,
dijumpai pada sword bean. Pada
tanaman lain yaitu : Lipinus lutens (GA18,
GA23, GA28), pada pucuk tanaman jeruk dan biji mentimun
diketemukan GA1, tebu (GA5), pisang (GA7),
kacang, jagung, barley wheat diketemukan GA1. Adapun pada tanaman Phaseolus coclirecus diketemukan ; GA1,
GA3 s.d GA6, GA8, GA13, GA17,
dan GA20. Kemudian pada Rudbeckia
bicolor diketemukan ; GA1, GA4, GA7, s.d
GA9. Dan yang terakhir yaitu pada Calonyction aculeatum diketemukan : GA30, GA31,
GA33, dan GA34. Hasil penelitian Meizger dan Zeivaart
(1980) menunjukan bahwa pada pucuk bayam (spinach)
didapatkan gibberellin ; GA53,
GA44, GA19, GA17, GA20, dan GA29,.
2. Metabolisme gibberelline
Gibberellin adalah zat kimia
yang dikelompokan kedalam terpinoid. Semua kelompok terpinoid
terbentuk dari unit isoprene yang
terdiri dari 5 atom karbon.

Unit-unit
isoprene ini dapat bergabung sehingga
menghasilkan monoterpene (C-10), Sesqueterpene (C-15), diterpene (C-20) dan triterpene (C-30).
Biosintesis
gibberelline yang terdapat dalam
jamur Gibberella Fujikuroi berproses
dari Mevalonic acid sampai menjadi gibberellin. Di dalam proses
biosintesis telah diketemukan zat penghambat (growth retardant) di dalam aktivitas ini. Beberapa contoh growth retardant yang menghambat
biosintesis gibberelline pada tanaman
antara lain Amo-1618 (2-isopropil-4-dimetil-kamine-5
metil phenil-4pipendine karboksilatmetil klorida) menghambat biosintesis gibberelline pada tanaman mentimun liar
(Exhmocytis macrocarpa). Amo-1618 menghambat
dalam proses perubahan dari Geranylgeranyl
pyrophosphat ke Kaurene. Begitu
pula growth retardant CCC (2-chloroethyl) trimethyl (-amonium chloride) memperlihatkan aktivitas yang sama dengan Amo-1618.
3. Struktur molekul
dan aktivitas gibberelline
Gibberelline merupakan suatu compound (senyawa) yang mengandung “gibban skeleton”.
Menurut Weaver (1972), perbedaan utama
pada gibberelline adalah:
a. beberapa gibberelline mempunyai 19 buah atom
karbon dan yang lainnya mempunyai 20 buah atom karbon.
b.
Grup hidroksil berada dalam
posisi 3 dan 13 (ent gibberellene
numbering system)
Semua gibberelline dengan 19 atom
karbon adalah monocarboxylic acid
yang mengandung COOH grup pada posisi 7 dan mempunyai sebuah lactonering.
Di dalam alam, dijumpai pula beberapa senyawa yang di ekstrak dari
tanaman. Senyawa tersebut tidak mengandung gibberelline
atau gibberellane structure tetapi
termasuk ke dalam gibberelline. Dari
hasil penelitian Tamura dkk, ia
menemukan suatu substansi dalam jamur Helminthosporium
sativum yang dinamakan “helminthosporol”
yang aktif dalam perpanjangan daun pada kecambah padi dan barley. Senyawa lain
yang ditemukan tanpa gibban skeleton yaitu “Steviol”,
namun aktivitasnya seperti gibberelline.

4. Arti gibberellin bagi fisiologi tanaman
Gibberellin sebagai hormon
tumbuh pada tanaman sangat berpengaruh pada sifat genetik (genetic dwarfism), pembuangan, penyinaran, partohenocarpy, mobilisasi karbohidrat selama perkecambahan (germination) dan aspek fisiologi
kainnya. Gibberelline
mempunyai peranan dalam mendukung perpanjangan sel (cell elongation), aktivitas kambium dan mendukung pembentukan RNA
baru serta sintesa protein.
a.
Genetic dwarfism
Genetic dwarfism adalah suatu
gejala kerdil yang disebabkan oleh adanya mutasi. Gejala ini terlihat dari memendeknya internode. Terhadap Genetic dwarfism ini, gibberelline
mampu merubah tanaman yang kerdil menjadi tinggi. Hal
ini telah dibuktikan oleh Brian dan Hemming (1955). Dalam
eksperimennya mereka telah memberi perlakuan penyemprotan gibberellic acid pada berbagai varietas kacang. Hasil dari eksperimen ini menunjukan bahwa gibberellic acid berpengaruh terhadap tanaman kacang yang kerdil
dan menjadi tinggi.
Mengenai hubungannya dengan cell
elengation, dikemukakan bahwa gibbberelline
mendukung pengembangan dinding sel.
Menurut van Oberbeek (1966) penggunaan gibberelline
akan mendukung pembentukan enzym protolictic
yang akan membebaskan tryptophan
sebagai asal bentuk dari auxin. Hal
ini berarti bahwa kehadiran gibberelline
tersebut akan meningkatkan kandungan auxin.
Mekanisme lain menerangkan bahwa gibberelline
akan menstimulasi cell elengation,
karena adanya hidrolisa pati yang dihasilkan dari gibberelline, akan mendukung terbentuknya a amilase. Sebagai akibat
dari proses tersebut, maka konsentrasi gula meningkat yang mengakibatkan
tekanan osmotik di dalam sel menjadi nai, sehingga ada kecenderungan sel
tersebut berkembang.
b.
Pembungaan
(flowering)
Gibbereline sebagai salah
satu hormon tumbuh pada tanaman, mempunyai peranan dalam pembungaan. Penelitian yang
dilakukan Henny (1981) pada bungan spothiphyllum
Tabel 1. Pengaruh GA3 terhadap pembungaan Spathiphyllum Mauna Loa
|
GA3
(mg/l) |
Pembangunan
(%) minggu setelah perlakuan |
|||||
|
10 |
12 |
14 |
16 |
18 |
20 |
|
|
0 |
0 |
0 |
0 |
0 |
0 |
10 |
|
250 |
0 |
0 |
30 |
70 |
70 |
90 |
|
500 |
20 |
50 |
70 |
100 |
100 |
100 |
|
1000 |
0 |
60 |
90 |
100 |
100 |
100 |
c.
Parthenocarpy dan
fruit set
Seperti
auxin, gibberelline pun berpengaruh
terhadap Parthenocarpy. Hasil penelitian menunjukan bahwa gibberellic acid (GA3) lebih
efektif dalam terjadinya Parthenocarpy
dibanding dengan auxin yang dilakukan
pada blueberry. Hasil eksperimen lain menunjukan pula bahwa GA3 dapat
meningkatkan tandan buah (fruit set)
dan hasil.
d. Peranan Gibberellin
dalam pematangan buah (fruit ripening)
Pematangan (ripening) adalah
suatu proses fisiologis, yaitu terjadinya perubahan dari kondisi yang tidak
menguntungkan ke suatu kondisi yang menguntungkan, ditandai dengan perubahan
tekstur, warna, rasa dan aroma.
Dalam proses pematangan ini, gibberelline
mempunyai peran penting yaitu mampu mengundurkan pematangan (repening) dan pemasakan (maturing) suatu jenis buah.
Dari hasil penelitian menunjukan aplikasi gibberelline pada buah tomat dapat memperlambat pematangan buah,
sedangkan gibberellic acid yang diterapkan pada buah pisang
matang, ternyata pemasakannya dapat ditunda.
e. Mobilisasi bahan
makanan selama fase perkecambahan (germination)
Biji cerealia
terdiri dari embrio dan endosperm. Didalam endosperm terdapat masa pati (starch) yang dikelilingi oleh suatu
lapisan “aleuron”.. sedangkan embrio
itu sendiri merupakan suatu bagian hidup yang suatu saat akan menjadi dewasa.
Pertumbuhan embrio selama perkecambahan bergantung pada persiapan bahan makanan
yang berada di dalam endosperm. Untuk keperluan kelangsungan hidup embrio maka
terjadilah penguraian secara enzimatik yaitu terjadi perubahanpati menjadi gula
yang selanjutnya ditranslokasikan ke embrio sebagai sumber energi untuk
pertumbuhannya.
Dari hasil penelitian menunjukan bahwa gibberelline berperan penting dalam
proses aktivitas amilase. Hal ini telah dibuktikan dengan menggunakan GA yang
mengakibatkan aktivitas amilase miningkat.
Aktivitas enzym a amilase dan protease di dalam
endosperm juga didukung oleh GA melalui de
novo synthesis. Hal ini ada hubungannya dengan
terbentuknya DNA baru yang kemudian menghasilkan RNA.
f.
Stimulasi aktivitas cambium dan perkembangn xylem
Gibberelline mempunyai peranan dalam aktivitas kambium dan perkembangn xylem. Aplikasi GA3 dengan
konsentrasi 100, 250, dan 500 ppm mendukung terjadinya diferensiasi xylem pada pucuk olive. Begitu pula
dengan mengadakan aplikasi GA3 + IAA dengan konsentrasi
masing-masing 250 dan 500 ppm, maka terjadi pengaruh sinergis pada xylem. Sedangkan aplikasi
auxin saja tidak memberi pengaruh
pada tanaman.
g.
Dormansi
Dormansi adalah masa
istirahat bagi suatu organ tanaman atau biji. Menurut Copeland
(1976), dormansi adalah kemampuan
biji untuk mengundurkan fase perkecambahannya hingga saat dan tempat itu
menguntungkan untuk tumbuh.
Secara umum terjadinya dormansi
adalah disebabkan oleh faktor luar dan faktor dalam. Faktor yang
menyebabkan dormansi pada biji adalah
sbb:
1.
tidak sempurnanya
embrio (rudimentery embriyo)
2.
embrio yang belum
matang secara fisikologis (physiological
immature embriyo)
3.
kulit biji yang tebal (tahan terhadap gerakan mekanis)
4.
kulit biji impermeable ( impermeable seed coat)
5.
adanya zat penghambat (inhibitor) untuk perkecambahan (presence of germination inhibitors).
Fase yang terjadi
dalam dorminasi biji, menurut Amen
(1968) ada empat fase yang harus dilalui :
1. fase induksi, ditandai dengan terjadinya penurunan jumlah hormon (hormon level)
2. fase tertundanya
metabolisme (a period of partial
metabolic arrest)
3.
fase bertahannya embrio untuk
berkecambah karena faktor lingkungan yang tidak menguntungkan.
4.
Perkecambahan (germination), ditandai dengan
meningkatnya hormon dan aktivitas enzym.
Peranan hormon tumbuh di dalam biji yang mengalami dorminasi telah dibahas
oleh warner (1967) yang mengatakan bahwa GA3 dapat menstimulasi
sintesis ribonukleas, amilase dan protoase di dalam endospem biji barley.
CYTOKININ
Cytokinin adalah salah satu zat pengatur
tumbuh yang ditemukan pada tanaman. Zat pengatur tumbuh ini mempunyai peranan
dalam proses pembelahan sel (cell
division).
Cytokinin pertama kali ditemukan dalam kultur
jaringan di Laboratories of Skoog and
Strong University of Wisconsin. Material yang dipergunakan dalam penelitian
ini adalah batang tembakau yang ditumbuhkan pada medium sintesis. Menurut
Miller et al (1955, 1956), senyawa yang aktif adalah kinetin (6-furfuryl amino purine). Hasil
penelitian menunjukan bahwa purine adenin sangat efektif.
1. Struktur kimia Cytokinin
Bentuk dasar dari cytokinin adalah adenin (6-amino
purine). Adenin merupakan bentuk dasar yang
menentukan terhadap aktifitas cytokinin.
Di dalam senyawa cytokinin, panjang
rantai dan hadirnya suatu double bond
dalam rantai tersebut akan meningkatkan aktifitas zat
pengatur tumbuh ini.
2. Arti Cytokinin bagi fisiologi tanaman
Penelitian pertumbuhan pith
tissue culture dengan menggunakan cytokinin
dan auxin dalam berbagai perbandingan
telah dilakukan oleh Weier et al
(1974). Dihasilkan bahwa apabila dalam perbandingan cytokinin lebih besar dari auxin, maka hal ini akan
memperlihatkan stimulasi pertumbuhan tunas dan daun. Sebaliknya apabila cytokinin lebih rendah dari auxin, maka ini akan
mengakibatkan stimulasi pada pertumbuhan akar. Sedangkan apabila perbandingan cytokinin dan auxin berimbang, maka
pertumbuhan tunas, daun dan akar akan berimbang pula.
Tetapi apabila konsentrasi cytokinin
itu sedang dan konsentrasi auxin rendah, maka keadaan pertumbuhan tobacco pith culture tersebut akan berbentuk callus.
Sedangkan dalam pembelahan sel, dikemukakan bahwa IAA dan
kinetin, apabila digunakan secara tersendiri akan
menstimulasi sintesis DNA dalam tobacco
pith culture. Dan menurut ahli tsb, kehadiran IAA dan kinetin ini diperlukan
dalam proses mitosis walaupun IAA lebih dominan pada fase tersebut.
3. Interaksi Cytokinin, Gibberellin dan Auxin
dalam perkembangan tanaman
Di dalam alam tidak satu unsurpun yang berdiri sendiri. Kesemuanya berinteraksi antara satu sama lainnya, sehingga merupakan suatu
sistem. Begitu pula dengan zat pengatur tumbuh.
Pada tanaman, zat pengatur tumbuh auxin, gibberellin dan cytokinin
bekerja tidak sendiri-sendiri, tetapi ketiga hormon tersebut bekerja secara
berinteraksi yang dicirikan dalam perkembangan tanaman.
ETHYLENE
Ethylene adalah hormon tumbuh yang secara umum berlainan dengan Auxin, Gibberellin, dan Cytokinin.
Dalam keadaan normal ethylene akan
berbentuk gas dan struktur kimianya sangat sederhana sekali. Di alam ethilene akan berperan apabila terjadi
perubahan secara fisiologis pada suatu tanaman. hormon ini akan berperan pada
proses pematangan buah dalam fase climacteric.
Penelitian terhadap ethylene, pertama kali dilakukan oleh
Neljubow (1901) dan Kriedermann (1975), hasilnya menunjukan gas ethylene dapat membuat perubahan pada
akar tanaman. Hasil penelitian Zimmerman et al (1931) menunjukan bahwa ethylene dapat mendukung terjadinya abscission pada daun, namun menurut
Rodriquez (1932), zat tersebut dapat mendukung proses pembungaan pada tanaman
nanas.
Penelitian lain telah membuktikan
tentang adanya kerja sama antara auxin
dan ethylene dalam pembengkakan (swelling) dan perakaran dengan cara
mengaplikasikan auxin pada jaringan setelah ethylene
berperan. Hasil penelitian menunjukan bahwa kehadiran auxin dapat menstimulasi produksi ethylene.
1. Struktur kimia dan
Biosintesis ethylene
Struktur kimia ethylene sangat sederhana yaitu terdiri dari 2 atom karbon dan 4
atom hidrogen seperti gambar di bawah ini :
Biosintesis ethylene
terjadi di dalam jaringan tanaman yaitu terjadi perubahan dari asam amino methionine atas bantuan cahaya dan FMN (Flavin Mono Nucleotide) menjadi Methionel. Senyawa tersebut mengalami
perubahan atas bantuan cahaya dan FMN menjadi ethykene, methyl disulphide, formic acid.
2. Peranan ethylene dalam fisiologi tanaman
Di dalam proses fisiologis, ethylene
mempunyai peranan penting. Wereing dan Phillips (1970) telah mengelompokan
pengaruh ethylene dalam fisiologi
tanaman sbb:
a. mendukung
respirasi climacteric dan pematangan
buah
b. mendukung epinasti
c. menghambat perpanjangan
batang (elengation growth) dan akar
pada beberapa species tanaman walaupun ethylene
ini dapat menstimulasi perpanjangan batang, coleoptyle
dan mesocotyle pada tanaman tertentu,
misalnya Colletriche dan padi.
d. Menstimulasi
perkecambahan
e.
Menstimulasi
pertumbuhan secara isodiametrical lebih besar dibandingkan dengan pertumbuhan
secara longitudinal
f.
Mendukung terbentuknya bulu-bulu akar
g. Mendukung
terjadinya abscission pada daun
h. Mendukung proses
pembungaan pada nanas
i.
Mendukung adanya flower fading dalam persarian anggrek
j.
Menghambat transportasi auxin secara basipetal dan lateral
k. Mekanisme timbal
balik secara teratur dengan adanya auxin
yaitu konsentrasi auxin yang tinggi menyebabkan terbentuknya ethylene. Tetapi kehadiran ethylene
menyebabkan rendahnya konsentrasi auxin
di dalam jaringan.
Hubungannya dengan
konsentrasi auxin, hormon tumbuh ini
menentukan pembentukan protein yang diperlukan dalam aktifitas pertumbuhan,
sedangkan rendahnya konsentrasi auxin,
akan mendukung protein yang akan mengkatalisasi
sintesis ethylene dan precursor.
3. Peranan ethylene dalam proses pematangan buah
Harsen (1967) dalam Dilley (1969) telah mempelajari hubungan antara ethylene dengan tingkat kematangan pada
buah pear. Ia mengemukakan bahwa pematangan
ini menjadi suatu sequential dalam proses kesinambungan kehidupan buah. Menurut
konsep tsb, ethylene berpebgaruh
terhadap beberapa yang mengontrol pola normal dari proses pematangan.
Menurut Frenkel et
al (1968), sintesa protein diperlukan pada tingkat pematangan yang normal.
Protein disintesa secepatnya dalam proses pematangan. Dari hasil eksperimen
terhadap buah pear, memperlihatkan bahwa pematangan buah dan sintesa protein
terhambat sebagai akibat perlakuan cycloheximide
pada permulaan fase climacteric.
Setelah cycloheximide hilang,
ternyata sintesis ethylene tidak
mengalami hambatan.
Di dalam proses pematangan, ribonucleic acid synthesis
pun diperlukan. Dalam eksperimen menggunakan buah pear, buah tersebut
ditreated, dengan actinomysin D pada
tingkat pre climacteric. Dari hasil
eksperimen ini diperoleh petunjuk bahwa actinomysin
D menghambat terbentuknya DNA yang
bergantung pada RNA sintesis.
Imascshi et al (1968)
mengemukakan bahwa ethylele mendukung
peningkatan aktivitas metabolisme dalam jaringan akar ubi jalar. Ethylene yang berkonsentrasi 0,1 ppm,
menstimulasi perkembangan peroxidase
dan phenyl alanine ammonialyase.
Penelitian lain mengemukakan bahwa perlakuan ethylene pada kecambah kapas menstimulasi aktivitas peroksida dan
IAA oksida.
4. Interaksi ethylene dengan auxin dan kinetin
Dari
hasil penelitian terhadap tanaman kacang (pea),
menunjukan bahwa pembentukan ethylene
lebih tampak pada jaringan meristem tempat auxin dihasilkan. Disini IAA mengontrol pembentukan ethylene dalam perpanjangan batang pea. Kehadiran kinetin dalam pertumbuhan tunas lateral dapat
mengatasi penghambatan yang diakibatkan oleh IAA. Hasil penelitian lain menunjukan bahwa adanya penghambatan transportasi auxin
oleh endogenous ethylene yang
menyebabkan terjadinya abscission pada
daun.
INHIBITORS
Yang dimaksud
dengan istilah inhibitor adalah zat
yang menghambat pertumbuhan pada tanaman, sering didapat pada proses
perkecambahan, pertumbuhan pucuk atau dalam dormansi.
Di
dalam tanaman, inhibitor menyebar
disetiap organ tubuh tanaman tergantung dari jenis inhibitor itu sendiri. Menurut weaver (1972), beberapa jenis inhibitor adalah merupakan bentuk phenyl compound termasuk phenol, benzoic acid, cinamic acid dan coffeic acid. Gallic acid dan shikimic acid merupakan turunan dari benzoic acid. Selanjutnya ia
mengemukakan pula bahwa gallic acid dapat
diketemukan pada buah yang matang, sedangkan ferulic acid dan p-coumaric
acid merupakan ko faktor untuk IAA oksida.
Di dalam alam, abscisic acid dapat dijumpai pada daun,
batang, rizoma, ubi (tuber), tunas (bud), tepung sari, buah, embrio,
endosperm, ataupun kulit biji (seed coat)
misalnya pada tanaman kentang, kacang, apel, adpokat rose dan kelapa.
Plant growth retardant adalah inhibitor
yang berperan dalam menghambat aktivitas apical
meristematic. Zat kimia yang dikelompokan dalam growth retardant adalah : Amo-1618, Phosfon-D, CCC (cycocel), SADH
(succinic acid-2,2-dimethyl hyrdazide) dan Morphactins
(methyl-2-chloro-9-hydroxy fluorene-9-carboxylate/IT 3456 dan
n-butyl-9-hydroxyfluerene-9-carboxylate/IT 3233).
1. Peranan inhibitor di dalam tanaman
a.
Abscissic acid
Di
dalam tanaman, Abscissic acid (
b.
Plant growth
retardant
Plant growth retardant adalah inhibitor
yang berlawanan dengan kegiatan gibbberellin
pada perpanjangan batang. Hal ini terbukti dari hasil
penelitian Lang dkk dengan menggunakan CCC dan Amo-1618 pada jamur fusarium moniliforme dan tanaman derajat
tinggi. Ternyata bahwa sintesis gibberellin diblokir sehingga gibberellin
tersebut tidak berpengaruh. Sedangkan SADH
menghambat diamin oksida (yang berperan dalam perubahan tryptamine menjadi IAA).
Secara garis besar ternyata inhibitor ini menghambat aktivitas auxin, gibberellin dan cytokinin.
ABA sebagai salah satu jenis inhibitor
mendukung dormansi, abscission dan senscence. Sedangkan SADH, CCC, Phosfon-D dan Amo-1618 menghambat
perpanjangan batang (cell elongation).
Growth retardant ini aktifasinya
berlawanan dengan gibberellin.
MH (Maleic Hydrazide) sering
digunakan sebagai herbisida dalam konsentrasi yang tinggi. Aktifitas MH ini
menghambat aktifitas meristematic,
sehingga menghambat perpanjangan batang. Begitu pula morphactin dan turunannya, dengan menggunakan konsentrasi yang
tinggi, dapat dipergunakan sebagai weed
killer. Peranan bahan kimia ini adalah menghambat perpanjangan batang dan
berfungsi pula untuk memecahkan auxillary
bud.
** dari berbagai sumber