ARTIKEL PENUNJANG BioSugih® TANI
©PT SUGIH CIPTA SANTOSA

 

Beralih ke Pertanian Organik III:
Merubah Lahan menjadi Lahan Pertanian Organik
dengan Menggunakan BioSugih
®

Banyak petani yang yakin telah menggunakan sistem pertanian organik, namun ketika sang pembeli melakukan analisa, ternyata didapat kandungan ureanya begitu tinggi dan residu pestisidanya melebihi ambang batas. Saat keadaan begini siapa yang salah? Apakah cara pengujiannya? Ataukah si petani? Ada banyak jawaban dan ada banyak alasan. Salah satunya adalah: terdapat residu dan deposit NPK tinggi pada tanah tempat petani bercocok tanam.

Deposit dan residu inilah yang terbawa oleh tanaman dan mengakibatkan tidak lulusnya produk pertanian yang dihasilkan menjadi produk organik. Hal itu tentu mengakibatkan kerugian banyak pihak. Petani yang berharap mendapatkan keuntungan setelah bersusah payah belajar dan bercocok tanam ala organik, tidak mendapatkan harga jual sesuai harapannya. Demikian juga pembeli yang kegirangan mendapat barang berkualitas tinggi berubah menjadi muram.

Diperlukan suatu cara agar semua senang dengan kualitas produk pertanian organik. Dan pada tahap awalnya ialah mengubah lahan pertanian menjadi lahan pertanian organik.

Lahan pertanian organik tidak jadi begitu saja, apalagi pada lahan yang telah digunakan bercocok tanam sejak kakek-nenek. Pada banyak lahan pertanian yang telah ditanami dan diatasnya digunakan sekian banyak urea, NPK, dan pupuk anorganik lainnya, ditambah pestisida dan zat-zat kimia lain, ditemuakn bahwa kandungan deposit dan residu pestisidanya telah melebihi batas. Diperlukan perlakuan lain agar si lahan kembali subur tanpa menyimpan deposit dan residu lagi.

Sebenarnya cara untuk mengembalikannya mudah, hanya saja diperlukan waktu untuk melakukannya. Perlu beberapa musim tanam berlalu mungkin juga tahunan agar lahan dapat kembali subur, hal itu tergantung pada seberapa tingkat kekritisan si lahan pada saat ini.

Cara mengubah lahan supaya menjadi lahan pertanian organik menggunakan BioSugih®  adalah sebagai berikut (per Ha):

Bila lahan sudah terbiasa diberi Urea lebih dari 100kg dalam jangka waktu 3 bulan, maka pemberian urea harus dikurangi seraca bertahap sehingga pemakaiannya menjadi 100kg /3 bulan. Pengurangan dosis urea tersebut dibarengi dengan pemberian BioSugih®  pada tanah, misalkan dengan cara disiramkan atau dengan pemberian kompos BioSugih®. Dengan dosis 10 liter BioSugih®  dicampur air secukupnya, atau 1 ton kompos bila menggunakan kompos BioSugih®.

Sedangkan pengurangan pupuk anorganik caranya sebagai berikut: pada musim tanam pertama pemberian pupuk anorganik diturunkan sebanyak 25%, kemudian pada musim tanam berikutnya dikurangi 50%, dan pada musim tanam berikutnya dikurangi 75%, dan selama itu setiap pengulahan lahan selalu diberikan BioSugih®  pada tanah (lihat diatas). Bila diperlukan pestisida, utamakan pestisida yan berasal dari bahan alami, seperti Nimba, biji dan daun sirsak, dll. Bila masih perlu pestisida kimiawi, gunakan yang masa aktifnya pendek (<5hari) dengan sangat memperhatikan dosis dan cara pemakaian. Setelah itu dapat dibuktikan dengan pengujian bahwa tanah tersebut telah terbebas dari deposit pupuk anorganik dan residu pestisida.

Di dalam BioSugih®  terdapat pestisida alami. Pestisida ini bersifat spesifik yaitu hanya membasmi hama ulat dan tidak meninggalkan residu. Hal ini patut disukuri karena berarti menurunkan biaya pestisida dan menurunkan resiko ditolaknya produk pertanian akibat pemakaian pestisida.

Salah satu tanda terbentuknya deposit pupuk anorganik didalam tanah adalah bentuk tanah padat dan keras, atau dengan istilah petani 'ngabeling'. Tanah ngabeling disebabkan kandungan organis dalam tanah sedikit juga terjadi agregat tanah disebabkan deposit P dan N yang tinggi. Dengan melakukan penyiraman BioSugih®  pada tanah, secara bertahap bakteri di dalam tanah aktif dan menjalankan tugasnya sehingga perlahan-lahan tanah menjadi lebih subur dan tidak hanya itu, deposit pupuk anorganik yang ada di dalam tanah dapat diserap oleh tanaman.

Sebagai contoh keberhasilan BioSugih®  adalah pengunaan BioSugih®  di salah satu perkebunan tebu di Lampung. Saat itu produktivitas panen tebu per hektar rendah dengan rendemen gula yang rendah pula. Setelah formulator menganalisa, diperoleh kesimpulan bahwa unsur P banyak menjadi deposit di dalam tanah. Supaya tebu bisa menghasikan rasa manis yang baik, diperlukan unsur P yang banyak. Namun penyerapan unsur P pada tanaman tebu terbatas, sehingga P yang diberikan tidak dapat diserap oleh tebu dan akibatnya terbentuk deposit P di dalam tanah. Seiring dengan perjalan waktu, pemberian P perlu ditingkatkan karena penyerapan yang dilakukan tanaman tebu terus menurun akibat menurunnya kualitas tanah. Deposit P dalam tanah tidak dapat diolah oleh tanaman dan termasuk deposit yang sulit untuk terurai kembali. Lalu apa yang terjadi? Pada perkebunan tebu yang telah dijalankan bertahun-tahun, deposit P mengakibatkan kadar P daam tanah tinggi tapi tidak dapat terserap oeh tanaman. Setelah menggunakan BioSugih®  deposit P berubah menjadi P yang dapat diserap oleh tanaman. Sehingga struktur tanah menjadi lebih baik dan berkembang menjadi semakin subur. Dan tidak hanya itu saja, BioSugih®  membantu penyerapan unsur P oleh tanaman sehingga P yang diberikan jumlahnya lebih sedikit, dan rendemen gula yang diperoleh menjadi lebih tinggi.