Pupuk merupakan salah satu faktor penting dalam upaya peningkatan produksi pertanian. Penemuan pupuk buatan/sintetis pada 1967-an merupakan pemicu terjadinya revolusi hijau (bidang pertanian) di dunia. Begitupun di Indonesia, sejak saat itu pemerintah merubah kebijakan pembangunan pertanian dengan diterapkannya program BIMAS/INMAS (Bimbingan Massal dan Intensifikasi Massal), petani mulai dikenalkan pada paket teknologi, diantaranya penggunaan bibit unggul, pupuk dan pestisida kimia. Saat itu hasil yang cepat dan teknologi yang digunakan dianggap sebagai dewa penolong yang bisa mengatasi permasalahan kekurangan pangan.

 

Penggunaan pupuk buatan (urea, ZA, TSP dan KCL) di Indonesia telah mampu meningkatkan produksi pertanian, bahkan bisa mencapai swasembada pangan. Masalahnya, penggunaan pupuk makro terus menerus tanpa diimbangi dengan pemberian unsur lainnya, menjadikan tanah jenuh dengan unsur makro tertentu tetapi produksi tidak meningkat lagi.Hal ini disebabkan terdapat faktor pembatas terhadap produksi, dimana unsur-unsur lain yang juga esensial bagi tanaman (selain N,P,K) tidak pernah ditambahkan padahal selama bertahun-tahun unsur tersebut telah dikuras dari dalam tanah bersamaan dengan panen. Selain itu mikro organisme yang dibutuhkan di dalam tanah ikut musnah akibat penggunaan pestisisa/insektisida berlebih.

 

Akibatnya  saat ini usaha pertanian tidak menjadikan petani sejahtera. Malah sebaliknya, petani justru semakin terpuruk nasibnya, karena petani menjadi ketergantungan terhadap sarana produksi yang semakin tinggi, nilai tukar produksi petani semakin rendah dan semakin hilangnya aneka ragam sumber daya hayati seperti bibit lokal yang merupakan kekayaan alam Indonesia.

 

Kenyataan diatas  tidak perlu terjadi jika tanah mendapat perlakuan yang baik, diantaranya dengan memberikan  pupuk yang  ramah lingkungan, aman bagi tanah, tanaman dan petaninya, serta secara berkelanjutkan meningkatkan kualitas tanah dan produk pertaniannya.

 

Dilandasi kepedulian terhadap upaya peningkatan produktivitas pertanian  yang berwawasan lingkungan dan berkelanjutan, PT. SCS memasarkan pupuk organik lengkap dengan merk BioSugih® yang dapat digunakan untuk semua jenis tanaman.

 

Pupuk BioSugih®  merupakan pupuk organik lokal karya anak bangsa yang patut dibanggakan. BioSugih®  dibuat dari bahan-bahan organik, sehingga mengandung 17 asam amino, unsur makro dan mikro seperti N, P, K, Ca, Mg, Mn, Zn, B, Fe, Mo, Co, I, Cu, C, S dan Mo. BioSugih®  juga mengandung zat pengatur tumbuh (ZPT) seperti Gibbrellin, Zeatin dan IAA dan mikroba probiotik terpilih. Merupakan formula yang diperoleh setelah melalui riset selama belasan tahun yang telah lama meluas pemakaiannya di negeri China dan selama tiga puluh tahun berjuang di negeri ini, kini dengan semangat baru berjuang bersama masyarakat agrobisnis Indonesia untuk memajukan pertanian Indonesia.

 

PT. Sugih Cipta Santosa