Berkenalan Dengan
Pak
Ayub
Sosok
yang satu ini memang dikenal sebagai pencinta Anggrek. Tak heran jika kebunnya
yang seluas 2300 meter persegi dipenuhi oleh tanaman anggrek dari berbagai
jenis. Dia adalah Pak Ayub alias Ayub S.Parnata (77).
Sosok
yang satu ini memang dikenal sebagai pencinta Anggrek. Tak heran jika kebunnya yang
seluas 2300 meter persegi dipenuhi oleh tanaman anggrek dari berbagai jenis.
Dia adalah Pak Ayub alias Ayub S.Parnata (77).
Kecintaannya pada anggrek
dimulai pada saat Ayub berusia 4 tahun. Kala itu ia kerap melihat kakeknya
menanam anggrek, terutama anggrek bulan. Ia terpesona akan bunga anggrek yang
indah dan menawan milik sang kakek. Selain anggrek bulan, kakeknya juga menanam
satu spesies bunga anggrek dari Filipina dan Sumatera. Di usia Ayub yang
keenam, sang kakek meninggal dunia.
Ketika Ayub berusia ke 20
tahun, koleksi anggrek bulan milik kakeknya masih tersisa satu. Neneknya
kemudian memberikan anggrek itu pada Ayub. Dari situlah dia mulai serius
menekuni anggrek. Saat memasuki usia dua puluh empat tahun, ia mulai menghimbau
para petani anggrek untuk mendirikan perkumpulan anggrek. Dan mereka berminat.
Itu terjadi pada 4 Nopember 1956.
Secara pribadi, Ayub memulai
bisnis anggrek pada 1947. Ceritanya bermula dari ketika Nyonya Bosch, seorang guru berkewarganegaraan Belanda yang tidak
lain adalah guru Ayub. Saat tugasnya berakhir dan akan kembali ke negeri
Belanda, wanita ini bermaksud menjual seluruh koleksi tanaman anggreknya dengan
harga 4000 gulden, setara dengan dua kilogram emas.
Mendengar sang guru hendak menjual
tanaman anggrek-anggreknya, jiwa bisnis Ayub yang memang sudah muncul sejak ia
berusia dua belas tahun langsung tersentak. Maklum saat itu ia sudah berbisnis
ikan hias. Dari bisnis ikan hias yang dilakoninya sejak 1947 ia sudah memiliki
uang simpanan, namun belum cukup untuk membeli anggrek tersebut.
Ayub merengek pada ibunya agar
diberi pinjaman uang untuk membeli semua anggrek-anggrek itu. Ia meminjam uang
dua ribu gulden dari ibunya. Berbekal pinjaman uang dan restu dari sang ibu,
akhirnya Ayub menemui gurunya. Nyonya Bosch terkejut. Ia tidak menduga kalau
koleksi tanaman anggreknya, yang dijual seharga 4000 gulden, dibeli oleh anak
seusia Ayub.
Seiring berjalannya waktu, Ayub
mulai melebarkan bisnisnya. Dari budidaya anggrek, ia memulai bisnis pembuatan
pupuk untuk tanaman.Hal ini dilakukannya dengan penuh keyakinan setelah ia
belajar dari Ir. Zailstrach, seorang
praktisi pertanian yang pernah tinggal di Indonesia dan menetap di Zurich,
Swiss. Usaha Ayub yang dimulai dari Lengkong Kecil itu, terus berkembang hingga
ke Pasirkaliki, Bandung.
Mendirikan PAI
Kiprah Ayub di kancah anggrek
Indonesia-pun terus melesat. Untuk memperluas eksistensi anggrak, Ayub bersama
Raden E.J Kartahadimadja, Doeli Wangsasoelaksana, pimpinan Koran Pikiran
Rakyat, Djamal Ali, dan Wim Van Neyenhof, pada 4 November 1956 bertempat di
Jalan Van de Venter, Bandung, mendirikan Perhimpunan Anggrek Indonesia (PAI).
Anggaran dasar PAI dibuat oleh Rd.Tumenggung Jumhana Wiaryaatmadja. Sedangkan
Ayub saat itu dipercaya sebagai Humas.
Ada cerita menarik tentang
penggunaan nama “Anggrek”, untuk menyebut bunga yang punya nilai ekspor tinggi
itu. Kala itu, beberapa nama diusulkan. Ada yang mengusulkan “Angkrek” yang
diambil dari bahasa Sunda, dan “Anggrik” dari bahasa Padang. Dua usulan nama
itu dirasa Ayub kurang menarik. Lalu muncullah usul untuk menggunakan naman
“Anggrek”, diambil dari bahasa Jawa. Menurut Ayub, nama itu lebih cocok sebab
di Indonesia suku Jawa tersebar di mana-mana. Akhirnya setelah melalui diskusi
yang cukup lama, disepakatilah pemakaian nama “Anggrek”. Kata inilah yang
kemudian ditetapkan.
Setelah PAI berdiri, Ayub dan
rekan-rekannya menerbitkan bulletin tipis tentang anggrek. “Bulletin itu
responnya bagus sekali. Yang pertama-tama bergabung ialah Yogya. Kemudian baru
Jakarta, Surabaya, dan Bandung. Lambat laun, jadilah Perhimpunan Anggrek
Indonesia di seluruh Nusantara”, ujarnya kepada orchidsINDONESIA dalam perbincangan di kediamannya di Bandung.
Setelah tahun 1967, almarhum H.Boedihardjo, mantan duta besar untuk Kamboja dan Spanyol yang juga
pencinta Anggrek, berkunjung ke kebun Anggrek Ayub. Saat itu Ayub mengusulkan
agar PAI dipindahkan ke Jakarta dan dipimpin langsung oleh Boediardjo. Setelah
mengemukakan usulan itu, Ayub mengajak Boediardjo ke perkebunan Doeli
Wangsasoelaksana. Di tempat inilah dibuat surat serah terima dari ketua PAI
yang lama kepada Boediardjo. “Begitulah setelah kepengurusan pindah ke Jakarta,
Boediardjo lalu menemui Ibu Tien Soeharto dan meminta kesediaannya untuk
menjadi pelindung PAI. Ini dilakukan karena ia tahu, Ibu Tien sangat
menyukai anggrek”, ceritanya.
Permintaan Boediardjo mendapat
sambutan baik dari Ibu Tien. Sejak saat itu, anggrek melejit, dibarengi dengan
dibentuknya cabang PAI yang baru.
Kepemimpinan
H.Boediardjo berakhir pada 1983. Sejak 1967-1983 PAI mengalami saat-saat
keemasan.
Ibu Tien
bersedia menjadi pelindung organisasi PAI. Atas prakarsa H.Boediardjo dan Ibu
Tien, didirikanlah Taman Anggrek Indonesia Permai (TAIP) yang berlokasi di
Slipi, Jakarta. TAIP menjadi tempat para pebisnis Anggrek menjual
anggrak-anggrek koleksi mereka. Di sinilah para penjual memamerkan sekaligus
menjual produk anggrek, bai spesies, hibrida, maupun silangan.
Selama
1988-1993, kepemimpinan PAI kembali dijabat oleh H.Boediardjo. Pada masa ini
Anggrek Bulan (Phalaenopsis amabilis)
dijadikan bunga Puspa Pesona atau bunga yang mempesona. Setelah itu, 1993
hingga 2000. PAI dipimpin oleh Ir.Wardoyo.
Selama
kepemimpinannya, para fungsionaris PAI mendirikan Yayasan Anggrek Indonesia (YAI).
Seiring berjalannya waktu, jabatan ketua umum pusat PAI kemudian diserahkan ke
Daryono.
Selain
melakukan budidaya tanaman anggrek, Ayub juga memelihara beberapa ekor sapi.
“Untuk keseimbangan…”, katanya. Menurutnya hidup berjalan bagai air mengalir.
Hidupnya yang tenang terlihat dari tutur kata dan penampilannya yang bersahaja.
Di tengah
iklim sejuk dan hamparan hutan pinus yang berjejer rapi, pria ini terus
memiliki harapan agar anggrek Indonesia terus “mekar”. Semoga.
*dikutip
dari majalah OrchidsINDONESIA edisi
perdana 2008
CURICULUM VITAE
AYUB S. PARNATA
Lahir di
Bandung, 4 Desember 1932
Pendidikan
: HBS Christeliyk Lyceum (Sekolah Belanda setara SMA)
|
Tahun |
Pengalaman |
|
1947 – sekarang |
petani
anggrek |
|
1951 -1952 |
memimpin
perkebunan kentang di pangalengan seluas 62 Ha |
|
4- 11-1957 |
memprakarsai
pendirian PAI (Perhimpunan Anggrek Indonesia) Pusat |
|
1962 |
atas permintaan Bpk. Dr.
Sumarno Gubernur Jakarta Raya mengetuai Pameran Anggrek Nasiona Pertama di Indonesia
dalam rangka menyambut para pemimpin Asia- Afrika, terutama dalam rangka
penyambutan Gubernur Tokyo merangkap Mentri Jepang. Keberhasilan Pameran
Nasional ini berkat kerjasama dengan para kelompok kerja para ketua PAI
Cabang seuruh Indonesia |
|
1960 – 1965 |
membuat
silangan jagung pertama di Indonesia dan tahun 1960 Bpk. Hermanses SH sebagai
Menteri Pertanian datang berkunjung ke kebun kami di lembang. |
|
1965 |
menyalurkan
bibit jagung hasil silangan kepada Perkebunan
Negara ANTAN VIII dan Yayasan Yasoskal dari CPM, untuk menanggulangi
kekurangan pangan. |
|
1964 – 1966 |
memproduksi
gelatin dan kapsul kosong untuk keperluan Paberik Kina Bandung, karena tidak
ada impor pada waktu itu. |
|
1967 |
melimpahkan kepengurusan PAI Pusat kepada Bpk. Budiharjdo
di Jakarta dari PAI Pusat di Bandung |
|
1967 |
membuat 10 mesin plastik
otomatis, memproduksi plastik sheet (kantung kresek) |
|
1967 |
memproduksi
minyak atsiri kemukus di padalarang Bandung |
|
1968-1969 |
menanam Nilam di Sukabumi – Cireundeu seluas 100 Ha
beserta alat penyulingannya. |
|
1969 – 1976 |
menanam
Nilam di Bumi Ayu Jawa Tengah seluas 300 Ha, sampai waiayh Baturaden, Limpa
Kuwus, Bobot Sari. Sekaigus membuat instalasi penyulingannya. Berhenti pada
tahun 1976 karena harga minyak nilam
dunia anjlok pada waktu itu dari 10 dolar menjadi 1 dolar. Selain nilam, diproduksi juga minyak pala,
cengkeh, kemukus dan lain-lain. |
|
1975 |
memproduksi
minyak kenanga di Sumber Pandan Tulungagung |
|
1976 |
iset
penyuingan Menta Arvensis dan Menta Piperita |
|
1976 |
Memulai
Riset dan produksi Pupuk Organik sendiri |
|
1967 -1996 |
Owner
PT. Tirta Suryalaksana (Properti) |
|
1977 |
memimpin
Pameran Anggrek di Bangkok Thaiand (Deegasi RI) |
|
1978 |
menjadi
seorang muslim (mualaf) |
|
1980 |
Eksport
pertama kali Pupuk Organik sendiri ke China |
|
1980 |
memimpin delegasi Indonesia dari PAI sebaganyak 38 orang
pada Pameran Anggrek Internasional di Arnhem Belanda serta mengadakan study
tour seteah pameran ke Jerman, Prancis, Inggris, Thailand, Malaysia dan
Singapura untuk meningkatkan imu pengetahuan dan memajukan peranggrekan Indonesia. |
|
1983 |
mendapat
kunjungan dari salah satu Ketua Senat USA Dr. David L. Groove yang merangkap
sebagai Presiden Director IBM yang tertarik akan Anggrek. |
|
1983 |
mendapat
kunjungan dari Mr. Tom sepupu ratu Elisabeth dari Inggris. |
|
1983 |
membuat
keompok kerja dengan Prof. Dr. Braem dari Jerman dan Wiliam Cavestro dari
Prancis untuk menyelenggarakan pemberian nama-nama Indonesia untuk
species-species Anggrek yang baru ditemukan
di Indonesia dan negara-negara lain, agar nama-nama anggrek Indonesia ditampilkan
dan dipakai oeh masyarakat internasional. Dan berhasi anatar lain : Paphiopedilum Supardii, Paphiopedilum intaniae, Dendrobium Racianum, Dendrobium Parnatanum, Phalaenopsis Cokroningrat dan banyak
lagi |
|
1984 |
memperoleh
penghargaan dari The Royal Horticultural Society London dan mendapatkan dua
nama anggrek jenis baru dengan nama asli Indonesia sebagai Ayubara dan Parnataara karena
silangan trigeneric, dan akan diabadikan untuk selamanya dalam jenis anggrek
bernama Indonesia bagi silangan antara Aerides
x Arachnis x Ascoglosum menjadi Ayubara
dan silangan antara Aerides x Arachnis x Phalaeonopsis menjadi Parnataara.
Trigeneric ini merupakan yang pertama dan kedua sampai sekarang dari
Indonesia, dan tercantum dalam Sander’s
List of International Hybrids of Orchids |
|
1986 |
atas
permintaan Departemen Pertanian RI membuat kelompok-kelompok Petani Anggrek,
membantu pemerintah menyeleksi jenis-jenis tanaman anggrek berbunga dan turut
serta ke Pameran Anggrek Asean di Bangkok dan memperoeh 33 medali untuk
Kelompok Petani Indonesia. |
|
1988 |
dibawah
pengawasan Baai Peneitian Pertanian Sukamandi mengadakan aplikasi pupuk hasil
riset sendiri dan berhasi meningkatkan produksi kedelai dari rata-rata 30
polong per tanaman menjadi rata-rata 144 polong disaksikan oleh Bpk. Solichin
GP, sewaktu menjadi Sekdalopbang. |
|
1996 |
mendapat
Piagam Penghargaan untuk Juara Pertama
se Jawa Barat untuk Prestasi Penggemukan Ternak Sapi Hasi Inseminasi Buatan
dari Dinas Peternakan Propinsi Daerah Tingkat I Jawa Barat, dan Bupati
Kabupaten Subang. |
|
2002 – 2004 |
mendirikan
Assosiasi Petani Anggrek Indonesia Pusat (APAI) dan daam kelompok kerjanya sudah
mengukuhkan Cababg Bali, Manado, Kendari, Papua, Kabupaten Bandung, Kota
Bandung, Jakarta Timur, Jambi dan Medan Membantu para petani untuk memperoleh
bibit dari luar negeri untuk meningkatkan mutu kwalitas bunga Anggrek dalam
membuat hybrida-hybrida bari di Indonesia, serta dalam rangka kerjasama
dengan DEPTAN melaksanakan kultur Jaringan untuk memenuhi kebutuhan bibit
Anggrek bagi para petani. |
|
2003 |
ditunjuk
oleh Departemen Pertanian RI bagian Hortikultura sebgai tempat magang para
petani Anggrek sebanyak 36 orang dari berbagai provinsi dari Sumut sampai
Indonesia Timur. |
|
18 – 11 – 2004 |
mendapat
penghargaan dari Presiden Negara Republik Indonesia, Bapak Susilo Bambang Yudhoyono,
atas peran serta dan kerja kerasnya dalam usaha memajukan dunia peranggrekan
dan agribisnis di Indonesia. |
|
1991 - 2008 |
berhasil mempromosikan Pupuk Organik hasil riset sendiri ke RRC,
Mongolia, Vietnam, Filipina, Malaysia, Thailand dan Australia. Di RRC pupuk
ini mampu meningkatkan produksi buah-buahan, udang, jamur, labi-labi secara
signifikan, terbebas dari penyakit serta mendapat penghargaan BLUE LABE AWARD
yang dinyatakan aman bagi ikan, burung, ternak dan manusia. Pupuk
organik ini kemudian diberi nama BioSugih® pada tahun 2004
dengan register merk ŇIDM000058946 |
Beberapa
tahun belakangan ini, telah menulis sejumlah buku seputar Anggrek dan pupuk organik
dan di terbitkan diantaranya oleh Agromedia Pustaka.